Desa Jadung Sumenep Ubah Tradisi Merantau Jadi Kekuatan Ekonomi, BUMDes Disiapkan Hubungkan Perantau dengan Kampung Halaman
- Mohammad -
- 10 Jul, 2026
SUMENEP I MaduraNetwork.id – Tradisi merantau yang telah lama melekat pada masyarakat Desa Jadung, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, justru menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi desa. Aliran pendapatan dari para perantau yang bekerja di Jakarta dan wilayah sekitarnya mampu mendorong peningkatan kesejahteraan warga sekaligus memperkuat sektor pertanian di kampung halaman.
Desa yang memiliki luas sekitar
6,23 kilometer persegi atau 623 hektare tersebut dikenal sebagai salah satu
desa dengan jumlah perantau cukup besar di Kabupaten Sumenep. Sebagian besar
masyarakat usia produktif memilih mencari penghidupan di Ibu Kota, namun tetap
menjaga keterikatan dengan daerah asal melalui investasi dan dukungan ekonomi
bagi keluarga.
Kepala Desa Jadung, Moh. Syakur,
mengatakan hasil kerja keras para perantau tidak hanya digunakan untuk memenuhi
kebutuhan keluarga, tetapi juga dialokasikan sebagai investasi produktif di
desa. Dana tersebut dimanfaatkan untuk membeli berbagai sarana pertanian modern
seperti traktor, mesin pompa air, hingga penyediaan pupuk guna meningkatkan
produktivitas lahan jagung.
Selain sektor pertanian, investasi
juga mengalir pada usaha peternakan. Menurut Syakur, banyak warga yang berada
di Jakarta mempercayakan modal kepada keluarga di kampung untuk memelihara sapi
Madura sebagai bentuk tabungan jangka panjang yang memiliki nilai ekonomi
tinggi.
"Sebagian perantau menitipkan
modal kepada keluarganya untuk memelihara sapi Madura. Investasi seperti ini
menjadi salah satu cara mereka tetap berkontribusi terhadap perekonomian
desa," ujarnya, Jumat (10/7/2026).
Keberhasilan para perantau juga
tampak dari meningkatnya pembangunan rumah-rumah permanen di Desa Jadung.
Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya taraf hidup
masyarakat berkat hasil kerja warga yang merantau.
Meski demikian, tingginya angka
migrasi penduduk usia produktif juga membawa tantangan bagi sektor pertanian.
Berkurangnya tenaga kerja muda menyebabkan sebagian lahan pertanian belum dapat
dimanfaatkan secara maksimal sepanjang tahun karena keterbatasan sumber daya
manusia yang mengelolanya.
Menghadapi kondisi tersebut,
Pemerintah Desa Jadung mulai menyiapkan langkah strategis melalui penguatan
peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Lembaga ekonomi desa itu diproyeksikan
menjadi wadah bagi para perantau untuk berinvestasi sekaligus membangun
jaringan pemasaran produk-produk unggulan desa.
Melalui skema tersebut, hasil
pertanian maupun produk olahan masyarakat diharapkan dapat dipasarkan langsung
ke wilayah Jabodetabek tanpa harus bergantung pada rantai distribusi yang
panjang melalui tengkulak.
Sinergi antara potensi sumber daya
alam Desa Jadung dengan kontribusi ekonomi para perantau dinilai menjadi modal
penting dalam membangun desa yang lebih mandiri dan berdaya saing. Model
pembangunan tersebut menunjukkan bahwa tradisi merantau tidak selalu berdampak
pada berkurangnya potensi desa, tetapi juga dapat menjadi kekuatan baru apabila
dikelola secara terintegrasi.
Dengan mengoptimalkan kolaborasi
antara masyarakat di perantauan dan pemerintah desa, Desa Jadung kini menjadi
contoh bagaimana migrasi penduduk dapat diubah menjadi energi pembangunan yang
berkelanjutan sekaligus memperkuat fondasi ekonomi masyarakat di wilayah
pedesaan.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *


