:

Desa Jadung Sumenep Ubah Tradisi Merantau Jadi Kekuatan Ekonomi, BUMDes Disiapkan Hubungkan Perantau dengan Kampung Halaman

top-news
https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

SUMENEP  I MaduraNetwork.id – Tradisi merantau yang telah lama melekat pada masyarakat Desa Jadung, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, justru menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi desa. Aliran pendapatan dari para perantau yang bekerja di Jakarta dan wilayah sekitarnya mampu mendorong peningkatan kesejahteraan warga sekaligus memperkuat sektor pertanian di kampung halaman.


Desa yang memiliki luas sekitar 6,23 kilometer persegi atau 623 hektare tersebut dikenal sebagai salah satu desa dengan jumlah perantau cukup besar di Kabupaten Sumenep. Sebagian besar masyarakat usia produktif memilih mencari penghidupan di Ibu Kota, namun tetap menjaga keterikatan dengan daerah asal melalui investasi dan dukungan ekonomi bagi keluarga.


Kepala Desa Jadung, Moh. Syakur, mengatakan hasil kerja keras para perantau tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga dialokasikan sebagai investasi produktif di desa. Dana tersebut dimanfaatkan untuk membeli berbagai sarana pertanian modern seperti traktor, mesin pompa air, hingga penyediaan pupuk guna meningkatkan produktivitas lahan jagung.


Selain sektor pertanian, investasi juga mengalir pada usaha peternakan. Menurut Syakur, banyak warga yang berada di Jakarta mempercayakan modal kepada keluarga di kampung untuk memelihara sapi Madura sebagai bentuk tabungan jangka panjang yang memiliki nilai ekonomi tinggi.


"Sebagian perantau menitipkan modal kepada keluarganya untuk memelihara sapi Madura. Investasi seperti ini menjadi salah satu cara mereka tetap berkontribusi terhadap perekonomian desa," ujarnya, Jumat (10/7/2026).


Keberhasilan para perantau juga tampak dari meningkatnya pembangunan rumah-rumah permanen di Desa Jadung. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya taraf hidup masyarakat berkat hasil kerja warga yang merantau.


Meski demikian, tingginya angka migrasi penduduk usia produktif juga membawa tantangan bagi sektor pertanian. Berkurangnya tenaga kerja muda menyebabkan sebagian lahan pertanian belum dapat dimanfaatkan secara maksimal sepanjang tahun karena keterbatasan sumber daya manusia yang mengelolanya.


Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Desa Jadung mulai menyiapkan langkah strategis melalui penguatan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Lembaga ekonomi desa itu diproyeksikan menjadi wadah bagi para perantau untuk berinvestasi sekaligus membangun jaringan pemasaran produk-produk unggulan desa.


Melalui skema tersebut, hasil pertanian maupun produk olahan masyarakat diharapkan dapat dipasarkan langsung ke wilayah Jabodetabek tanpa harus bergantung pada rantai distribusi yang panjang melalui tengkulak.


Sinergi antara potensi sumber daya alam Desa Jadung dengan kontribusi ekonomi para perantau dinilai menjadi modal penting dalam membangun desa yang lebih mandiri dan berdaya saing. Model pembangunan tersebut menunjukkan bahwa tradisi merantau tidak selalu berdampak pada berkurangnya potensi desa, tetapi juga dapat menjadi kekuatan baru apabila dikelola secara terintegrasi.


Dengan mengoptimalkan kolaborasi antara masyarakat di perantauan dan pemerintah desa, Desa Jadung kini menjadi contoh bagaimana migrasi penduduk dapat diubah menjadi energi pembangunan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat fondasi ekonomi masyarakat di wilayah pedesaan.

 

https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *